PADANG, Lintasmedia News— Ada harapan yang tidak selalu bisa diwujudkan dalam waktu singkat. Ia membutuhkan keberanian untuk memulai, kesungguhan untuk menjalani proses, serta dukungan dari orang-orang yang percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk mengubah kehidupannya.
Harapan itulah yang kini dibawa Kevin Blezynsky Jhonevan dan Wardah Putri Maghfirah dari Kelurahan Limau Manis Selatan, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Keduanya bersiap menapaki babak baru kehidupan dengan bekerja di Jepang setelah dilepas oleh Forum Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Limau Manis Selatan, Senin (12/10/2026).
Acara pelepasan yang digelar di Kantor Lurah Limau Manis Selatan itu juga dihadiri oleh Staf Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Unit CSR PT Semen Padang Nurwan dan tokoh masyarakat setempat. Acara pelepasan tersebut menjadi momen penting setelah keduanya melalui serangkaian tahapan persiapan untuk memperoleh kesempatan bekerja di Jepang.
Kevin dan Wardah berasal dari lingkungan yang sama, yaitu dari keluarga Rumah Tangga Miskin (RTM) di Kelurahan Limau Manis Selatan. Namun, keduanya membawa perjalanan dan motivasi masing-masing dengan satu tujuan, yaitu memanfaatkan kesempatan kerja sebaik-baiknya agar perjuangan yang mereka jalani dapat menghadirkan perubahan nyata bagi keluarga.
Bagi Kevin, pelepasan itu bukan sekadar seremoni. Ada perjalanan panjang yang telah dilalui, dukungan banyak pihak yang mengiringi, serta harapan keluarga yang turut dibawa ke negeri orang. Apalagi, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, ia menyadari bahwa keberhasilan dirinya bukan hanya untuk kepentingan pribadi. Ada tanggung jawab keluarga yang ingin ia pikul, sekaligus cita-cita membangun usaha sendiri ketika kelak kembali ke Tanah Air.
“Dengan adanya kesempatan bekerja ke Jepang, saya bisa membantu meringankan beban ekonomi orang tua, sekaligus memastikan kedua adik saya yang masih kuliah tetap memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pendidikannya. Di samping itu, kesempatan kerja di Jepang juga menjadi motivasi untuk mengubah nasib keluarga dan membuka usaha setelah balik ke Tanah Air,” ungkap Kevin.
Kevin juga mengatakan bahwa kesempatan bekerja di Jepang tidak datang secara instan. Sebelum dinyatakan lolos, ia harus menjalani proses persiapan yang membutuhkan waktu, kedisiplinan, dan kesungguhan. Salah satu tahapan penting dalam perjalanan tersebut adalah mengikuti pelatihan bahasa dan budaya Jepang di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (LPK) Kamisato Gakuin Center.
Pelatihan tersebut berlangsung selama enam bulan, mulai Juni hingga Desember 2025. Selama proses pembelajaran, kata Kevin, peserta mendapatkan bekal bahasa Jepang sekaligus pemahaman tentang budaya dan kebiasaan kerja yang berlaku di negara tujuan. Penguasaan bahasa menjadi modal penting bagi calon pekerja untuk berkomunikasi, memahami instruksi, dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Setelah menyelesaikan pelatihan, Kevin kemudian mengikuti proses pengujian dan seleksi untuk memperoleh pekerjaan di Jepang. Tahapan demi tahapan dijalaninya hingga akhirnya dinyatakan lolos untuk bekerja di sektor pertanian yang lokasinya berada di Enjoji Yohei, Prefektur Ibaraki. Menurut Kevin, statusnya di Jepang bukan sebagai peserta magang, melainkan pekerja melalui program kerja di Jepang.
“Kontrak awal yang akan dijalani berlangsung selama satu tahun, dengan kemungkinan perpanjangan hingga maksimal lima tahun. Harapannya, saya bisa di Jepang selama lima tahun. Karena semakin lama kesempatan bekerja di Jepang, maka semakin besar pula peluang untuk mengumpulkan tabungan, membantu keluarga, dan mempersiapkan rencana usaha yang ingin dirintis setelah balik ke Tanah Air,” ujarnya.
Meski demikian, lanjutnya, perjalanan yang akan dijalaninya tentu menuntut kesiapan untuk beradaptasi dengan kehidupan baru. Ia akan menghadapi lingkungan kerja yang berbeda, tinggal jauh dari keluarga, serta menjalani keseharian di tengah masyarakat dengan bahasa dan budaya yang tidak sama dengan kampung halaman. Namun, semua tantangan tersebut merupakan bagian dari perjalanan yang harus dipilih.
“Bagi saya pribadi, kesempatan kerja di Jepang ini terlalu berharga untuk dilewatkan. Saya ingin membuktikan bahwa usaha yang dilakukan hari ini dapat menjadi pijakan untuk kehidupan yang lebih baik pada masa mendatang,” ungkap lulusan S1 Teknik Elektro Institut Teknologi Padang (ITP) tersebut.
Hal yang sama juga disampaikan Wardah Putri Maghfirah. Lulusan S1 Ilmu Politik Universitas Andalas itu mengatakan bahwa kesempatan bekerja di Jepang dipilihnya karena kesempatan tersebut menjadi ruang untuk mengembangkan diri sekaligus memperkuat kondisi ekonomi keluarga.
“Bekerja di Jepang bukan hanya tentang berpindah tempat untuk mendapatkan penghasilan. Ada kesempatan untuk belajar menghadapi lingkungan baru, memahami budaya yang berbeda, meningkatkan kemampuan diri, dan membawa pulang pengalaman yang dapat berguna bagi kehidupan saya kelak.”
Perempuan berusia 25 tahun itu menyebut bahwa di Jepang, ia akan bekerja di bidang perawatan lansia yang berlokasi di Hanamonogatari, Prefektur Kanagawa.
“Bidang pekerjaan ini akan mempertemukan saya dengan lingkungan kerja yang menuntut tanggung jawab dan kemampuan beradaptasi,” katanya.
Meski telah memperoleh kesempatan kerja, Wardah mengaku bahwa perjalanan ke Jepang belum sampai pada tahap keberangkatan. Ia masih menunggu penyelesaian dokumen dan Certificate of Eligibility (COE), salah satu dokumen penting dalam proses keberangkatan pekerja asing ke Jepang.
“Berbeda dengan Kevin yang dijadwalkan berangkat pada 13 Oktober 2026, saya sendiri masih harus menunggu hingga seluruh persyaratan keberangkatan saya selesai. Saya berharap proses tersebut dapat segera rampung sehingga bisa menyusul dan memulai babak baru dalam kehidupan saya,” ujarnya.
Keberhasilan Kevin dan proses yang tengah dijalani Wardah menjadi gambaran nyata bagaimana program pemberdayaan masyarakat berupa pelatihan bahasa dan budaya Jepang dapat membuka akses menuju kesempatan kerja. Bagi warga yang berasal dari rumah tangga kurang mampu, akses terhadap pelatihan dan peluang kerja seperti ini dapat menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesejahteraan.
Ketua Forum Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Limau Manis Selatan Budi Safrianto mengatakan program tersebut memang dirancang untuk membantu warga dari RTM memperoleh kesempatan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Menurutnya, keberhasilan seorang peserta mendapatkan pekerjaan di Jepang bukan semata-mata pencapaian individu.
Lebih jauh, hal itu menjadi peluang bagi keluarga yang bersangkutan untuk meningkatkan taraf hidup dan mengurangi ketergantungan ekonomi.
“Program ini penting bagi kami di Forum Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Limau Manis Selatan. Karena peserta program ini berasal dari RTM. Artinya, jika satu peserta bisa berangkat, maka akan berpotensi untuk mengurangi satu RTM di Limau Manis Selatan,” ujarnya.
Budi menjelaskan, program pelatihan bahasa dan budaya Jepang tersebut memang diprioritaskan bagi warga yang berasal dari Rumah Tangga Miskin (RTM). Karena itu, selain membekali peserta dengan keterampilan bahasa dan budaya, Forum Pemberdayaan Masyarakat juga berupaya membantu mengatasi kendala pembiayaan keberangkatan bagi peserta yang telah dinyatakan lolos seleksi kerja.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah menjalin kerja sama dengan investor untuk menyediakan dana talangan biaya keberangkatan yang mencapai sekitar Rp30 juta per peserta. Melalui skema tersebut, calon pekerja dapat memenuhi kebutuhan biaya awal keberangkatan, sedangkan pengembalian dana dilakukan secara bertahap setelah mereka mulai memperoleh penghasilan di Jepang.
“Peserta program ini memang berasal dari keluarga kurang mampu. Karena itu, kami berupaya agar keterbatasan biaya tidak menjadi penghalang bagi mereka yang telah berhasil memperoleh kesempatan bekerja di Jepang. Harapannya, kesempatan ini dapat membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarga dan membuka peluang bagi mereka untuk keluar dari kategori rumah tangga miskin,” ujar Budi.
Melihat manfaat yang mulai dirasakan peserta, Budi berharap program pelatihan bahasa dan budaya Jepang ini dapat terus berlanjut pada 2027.
“Untuk itu, kami juga berharap dukungan PT Semen Padang agar program ini dapat terus berlanjut. Karena dengan adanya program ini, maka akan semakin banyak warga Limau Manis Selatan yang berasal dari RTM dapat memperoleh kesempatan kerja ke Jepang,” ujarnya.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Limau Manis Selatan Abu Nasir mengapresiasi PT Semen Padang dan Forum Pemberdayaan Masyarakat Limau Manis Selatan karena dinilai mampu menghadirkan program yang tepat sasaran. Menurutnya, pelatihan yang diberikan telah menunjukkan hasil melalui keberhasilan peserta memperoleh kesempatan bekerja di Jepang.
“Kami menilai program ini memiliki asas manfaat dan ketepatan sasaran. Tentunya, ini menjadi bukti bahwa program pelatihan ini dapat memberikan manfaat konkret ketika dilaksanakan secara terarah dan berkelanjutan. Untuk itu, kami juga berharap agar program ini dapat dilanjutkan. Karena harapan dari pelatihan yang diberikan akhirnya terealisasi. Ada peserta yang berhasil diberangkatkan ke Jepang,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Abu berpesan agar Kevin dan Wardah menjaga kepercayaan yang telah diberikan serta memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya.
“Mereka adalah orang-orang terpilih. Bekerja di Jepang selama beberapa tahun merupakan kesempatan berharga. Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya,” pesannya.
Sekretaris Lurah Limau Manis Selatan Damsiar menilai kolaborasi antara PT Semen Padang dan Forum Pemberdayaan Masyarakat telah menghadirkan bentuk kepedulian yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Menurutnya, kerja sama semacam ini perlu terus dikembangkan dan diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam memperluas kesempatan bagi warga untuk meningkatkan kesejahteraan.
“Tanpa kerja sama yang baik, kegiatan seperti ini tentu sulit terwujud. Ini merupakan bentuk kepedulian PT Semen Padang terhadap masyarakat Limau Manis Selatan. Kami dari kelurahan sangat mengapresiasi kepedulian PT Semen Padang yang telah mendukung penuh program pelatihan bahasa dan budaya Jepang yang digelar oleh Forum Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Limau Manis Selatan,” katanya.
Kepada Kevin dan Wardah, Damsiar juga berpesan agar senantiasa menjaga kesehatan selama berada di Jepang dan tetap mengingat keluarga yang ditinggalkan.
“Jaga kesehatan dan jangan lupa dengan keluarga. Ingat, keberangkatan ke Jepang tidak hanya menjadi harapan secara pribadi, tetapi juga harapan keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya.
Kepala Unit CSR PT Semen Padang Hernes menjelaskan bahwa pelatihan bahasa dan budaya Jepang merupakan bagian dari program Basinergi Membangun Nagari. Program ini dilaksanakan melalui dua Forum Pemberdayaan Masyarakat di Kecamatan Pauh, yakni Kelurahan Limau Manis Selatan dan Kelurahan Koto Lua.
Hernes juga menyampaikan bahwa sebelum Kevin, warga dari Kelurahan Koto Lua telah lebih dahulu diberangkatkan ke Jepang melalui program serupa.
“Dengan demikian, Kevin menjadi warga kedua yang berhasil diberangkatkan melalui program tersebut, sedangkan Wardah diharapkan segera menyusul setelah persyaratan keberangkatannya selesai,” katanya.
Hernes berharap kesempatan yang diperoleh Kevin dan Wardah tidak hanya dimanfaatkan untuk mengumpulkan penghasilan, tetapi juga untuk menyiapkan masa depan ekonomi yang lebih mandiri setelah kembali ke Indonesia.
“Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Menabung sebanyak-banyaknya. Saat kembali ke Tanah Air, harapannya bisa menciptakan lapangan kerja. Jadi, langkah kecil ini diharapkan bisa menjadi langkah besar nantinya,” pungkas Hernes.
Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang Win Bernadino mengatakan program pelatihan bahasa dan budaya Jepang merupakan bentuk dukungan perusahaan terhadap pendidikan sebagai investasi sosial jangka panjang.
“Melalui kolaborasi Forum Nagari dan pemangku kepentingan lainnya, kami berharap semakin banyak generasi muda memperoleh kesempatan untuk bekerja di Jepang,” ujarnya.
Ia menekankan, PT Semen Padang memandang Community Development sebagai proses membangun bersama masyarakat. Karena itu, program perusahaan tidak diarahkan sekadar pada pemberian bantuan, melainkan pada penguatan kapasitas, pemberdayaan, dan penciptaan manfaat yang berkelanjutan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media.
“Kami berharap dukungan ini dapat memberikan manfaat langsung bagi penerima manfaat sekaligus memperkuat berbagai upaya pembangunan yang telah dijalankan di wilayah ini,” katanya.