Pd, Panjang.Lintas Media.News.id
BENDI, moda transportasi tradisional khas  Padang Panjang, keberadaanya makin terpinggirkan. Maraknya, ojek dan angkutan kota dalam beberapa tahun belakangan, membuat keberadaan bendi makin ditinggalkan masyarakat.

Sebelum angkutan kota dan ojek, beroperasi, bendi merupakan satu satunya alat transportasi dalam kota dan menjadi primadona bagi masyarakat Padang Panjang,Batipuah X Koto. Keberadaan bendi sangat dibutuhkan masyarakat sebagai alat transportasi murah meriah.

Disamping, mulai terkesampingan,keberadaannya sekarang sudah mulai langka. Jika dihitung, mungkin tidak sampai sepuluh buah bendi yang masih aktif dan setia melayani pemompang. Dahulu masa jaya jayanya,  angkutan tradisional ini, jumlah sampai ratusan bendi beroperasi di Kota Padang Panjang,  melayani nyaris semua pelosok dalam kota Padang Panjang. 

Tahun berganti, zaman berobah, kemajuan teknologi tidak dapat di bendung. Begitu juga, dengan transportasi angkutan tradisional bendi. Zaman kemasanya sudah berlalu, seiring berlalunya waktu dan peralihan teknologi. Bendi, yang dahulu menjadi primadona, sekarang digantikan oleh ojek dan angkutan kota yang menguasai penompang. 

Beruntungnya, masih ada bendi yang tersisa dan setia melayani masyarakat, meski tertatih tatih. Namun, setidaknya sejarah bendi tidak hilang ditelan masa di Bumi Serambi Mekah ini, ujar Can menjawab LintasMedia.News.id dipangkalan bendi dipasar pusat Padang Panjang, Senin(15/2) pagi.

Jauh, sebelum keberadaan ojek dan angkutan kota menguasai transportasi dalam kota Padang Panjang, keberadaan tranportasi bendi sangat menjanjikan. Hasil yang didapat setiap hari, sanggup menghidupi keluarga dengan tiga orang anak. Dapat dibayangkan,berapa besar penghasilan yang didapat dari jasa transportasi setiap harinya.

Masa jayanya, bendi tahun 80 an, para kusir bendi bisa mengantongi uang Rp. 150 hingga Rp. 200 ribu sehari. Uang sebesar itu, ditahun 80 jumlah an sangat besar dan harga kebutuhan rumah tangga tidak semahal sekarang.Uang yang didapat semasa itu masih bisa ditabungkan. Sekarang, jangankan ditabung, untuk menutupi kebutuhan sehari hari saja kalang kabut dan jauh dari cukup.

Menggantongi, penghasilan 75 ribu saja setengah mati mendapatkanya. Masyarakat, sekarang cenderung naik ojek atau angkutan kota. Jadi, keberadaan bendi sangat memilukan, disamping terpingirkan jumlah penumpang pun jauh berkurang, lawan fati hari kehari makin banyak, ujar Can.

Berkurangnya, penghasilan bendi sehari hari, tidak ada sangkut pautnya dengan wabah Pandemi yang lagi marak merambah kota ini. Artinya, moda transportasi bendi mamang sudah terlupakan keberadaanya. Masa jaya itu sudah beralu. Keberadaan bendi tinggal sejarah untuk anak cucu. 

Sebelum, bendi menjadi sejarah di kota ini. Dengan, bendi yang tersisa lebih kurang 10 buah. Kita,  para pemilik bendi atau kusir bendi minta kepada pemerintah kota Padang Panjang untuk mencarikan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi para pemilik bendi  atau kusir. Sehingga, keberadaan bendi tidak cepat ditelan masa. 

Setidaknya, dengan sisa bendi yang dan aktif. Pemerintah daerah, dapat memfasilitasi bendi bendi yang tersisa merobahnya menjadi moda transportasi pariwisata dan pengelolaanya pada Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga. Jadi, keberadaan kami beralih menjadi transportasi pariwisata,  yamg melayani tamu tamu mampir di kota Padanga Panjang, harapan Can. 

Laki-laki berusia 64 tahun ini, sudah berprofesi sebagai kusir bendi selama kurang lebih 40 tahun. Dia merupakan generasi ketiga di keluarganya yang menjadi kusir bendi bersama tiga saudara kandungnya. Can sangat mencintai pekerjaannya, lantaran pekerjaan ini merupakan pekerjaan turun-temurun dari orang tuanya sejak dia masih kecil, terang Can mengakhiri bincang dengan LintasMedia.News.id(maisonpisano)
 
Top