Pariaman,Lintas Media News.
Kemampuan menulis kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus terus ditingkatkan. Dari perjalanan menghadiri  berbagai kegiatan PMII  di tingkat cabang dan koordinator cabang, memang masih sulit ditemui kader PMII yang mampu menulis dengan baik.

Demikian diungkapkan Tim Kaderisasi PB PMII Satria Efendi Tuanku Kuniang, Ahad (8/3/2020) malam saat peluncuran dan bedah bukunya di sekretariat PMII Cabang Pariaman, Jalan M.Rasyid, Kota Pariaman.

Peluncuran dan bedah buku  berjudul, Dari Ranah Minang Menuju Salemba, difasilitasi PC PMII Kota Pariaman. Tampil sebagai narasumber/pembedah buku Pengurus Seksi Literasi Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Sumbar Armaidi Tanjung.

Menurut Satria, setelah beraktifitas di PB PMII memang sangat dirasakan betapa pentingnya kader PMII punya kemampuan menulis, terutama menulis buku. Meski di tengah era digital, setiap orang bermedia sosial, namun kehadiran buku sebagai media transfer pengetahuan dan informasi masih sangat penting.

 “Karena itu, saya mengajak kader PMII dimana pun berada mulailah menulis,” kata Satria, kandidat Ketua Umum PB PMII masa khidmat 2020-2022 pada Kongres PMII di Balikpapan 13-17 April mendatang.

Armaidi Tanjung yang juga editor buku tersebut menyebutkan, keberanian Satria Efendi Tuanku Kuning menerbitkan buku ini patut diberikan apresiasi. Karena masih banyak  mahasiswa yang malas menulis, apalagi menerbitkan buku. Padahal, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, menulis sangat banyak terbantu.

“Jika dibanding dengan menulis sebelum adanya era komputer dan digital, sekarang sangat jauh lebih mudah. Saya yang mulai menulis di akhir tahun 1980-an merasakan bagaimana susahnya mengetik naskah tulisan. Jika salah di akhir kertas ketikan, harus diulang di awal (di atas) lagi. Mesin ketiknya pun harus numpang, seperti di tata usaha sekolah saat pegawainya sudah pulang,” kata Armaidi mengenang masa lalunya.

Kehadiran buku ini turut memperkuat gerakan literasi, terutama di kalangan mahasiswa dan aktivis kampus, kata Armaidi yang juga Bendahara PWI Pariaman ini menambahkan.

Ketua PC PMII Kota Pariaman Rianda menyebutkan, lounching dan bedah buku ini merupakan yang pertama dilakukan. Informasi dari para senior PMII Pariaman, sejak PMII berdiri tahun 2007 belum pernah melakukan louching dan bedah buku. Apalagi buku yang tulis kader PMII yang pernah beraktifitas di PMII Cabang Pariaman.

“Karena itu, momen lounching dan bedah buku ini jadi sejarah baru di PMII Pariaman. Mudah-mudahan ke depan ada lagi kader atau alumni PC PMII Kota Pariaman yang menerbitkan buku,” tutur Rian didampingi sekretarisnya Rido Saputra.

Buku ini terdiri dari tiga bagian.  Bagian I menampilkan sosok perjalanan Satria Efendi Tuanku Kuniang Dari Ranah Minang Hingga ke Salemba. Bagian II menyajikan artikel dan opini tulisan Satria yang dimuat di sejumlah media.  Bagian III  Satria Effendi Tuanku Kuning Dalam Berita,   memuat berita-berita aktifitas Satria yang ada dalam jejak rekam, baik media cetak maupun media online.

Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Agus Mulyono Herlambang dalam kata pengantar di buku tersebut mengatakan, Satria Effendi Tuanku Kuniang, nama yang beliau populerkan di Jakarta.

 Seorang kader yang berasal dari Kota Pariaman dan juga punggawa PB PMII yang aktif dibidang kaderisasi.  Satria adalah seorang kader PMII yang meniti karirnya di PMII dengan sabar, setapak demi setapak hingga akhirnya berproses di Jakarta.

 Mulai berproses di Komisariat hingga PB PMII bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dijalani. Perlu kesungguhan, kesabaran dan pengabdian yang keras dan tekun untuk mencapainya.

“Satria saya kenal sebagai pribadi yang ulet, mandiri dan berwawasan cakap. Buku ini adalah salah satu bukti kapasitas sahabat Satria sebagai kader PMII. Sahabat Satria menulis tentang rekam jejak perjalanan dirinya dan karyanya sebagai seorang kader yang sangat patut dijadikan teladan dan motivasi sahabat-sahabat PMII dimana pun berada,” kata Agus Mulyono.(rel)
 
Top