Padang, Lintasmedianews.com
Cahaya lentera bernuansa hijau keemasan seolah menjadi simbol kesejukan yang menyelimuti ranah Minang saat bulan suci tiba. Di tengah suasana religius yang kian terasa di berbagai penjuru Sumatera Barat, pesan persatuan dan kedamaian digaungkan oleh pucuk pimpinan kepolisian daerah sebagai pengantar memasuki Ramadan 1447 Hijriah.
Kapolda Sumbar, Gatot Tri Suryanta, tampil dengan sikap penuh hormat, menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa kepada seluruh umat Muslim. Dalam pesannya, ia menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang pembinaan jiwa yang menghadirkan ketenangan batin sekaligus memperkuat nilai moral di tengah masyarakat.
Di sisi lain, Wakapolda Sumbar, Solihin, berdiri seirama membawa pesan yang sama kuatnya. Bersama jajaran Polda Sumatera Barat, ia memastikan seluruh personel siap mengawal aktivitas masyarakat selama bulan suci agar berjalan aman, tertib, dan penuh kekhusyukan.
Menurut Gatot Tri Suryanta, Ramadan adalah bulan pendidikan spiritual. Kesabaran, pengendalian diri, dan empati sosial diuji sekaligus diasah. Ia mengajak masyarakat menjadikan momen ini sebagai titik balik untuk mempererat silaturahmi serta menjauhkan diri dari segala bentuk perpecahan yang dapat merusak harmoni sosial.
Ia menegaskan, keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat. Stabilitas daerah akan kokoh jika seluruh elemen masyarakat ikut berperan aktif menjaga lingkungan masing-masing. Semangat gotong royong dan kepedulian sosial dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga ketenteraman selama Ramadan.
Solihin menambahkan, jajaran kepolisian telah menyiapkan langkah preventif dan pengamanan terbuka maupun tertutup. Mulai dari pengamanan salat tarawih, patroli dialogis menjelang sahur, hingga pengawasan pusat keramaian, semua dilakukan dengan pendekatan humanis yang mengedepankan pelayanan.
Pendekatan tersebut, kata dia, menjadi wujud nyata bahwa Polri hadir bukan sekadar sebagai penegak hukum, tetapi juga sahabat masyarakat. Ramadan harus menjadi bulan yang menghadirkan rasa aman, bukan kecemasan akibat gangguan ketertiban.
Dalam dinamika sosial yang terus berkembang, potensi gesekan bisa saja muncul. Namun, melalui komunikasi yang intens dan kolaborasi dengan tokoh agama serta tokoh masyarakat, kepolisian berupaya meredam potensi konflik sejak dini. Pencegahan menjadi strategi utama dibanding penindakan.
Kapolda juga mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam bermedia sosial selama Ramadan. Ujaran kebencian, provokasi, dan penyebaran informasi yang belum terverifikasi dapat mencederai semangat persaudaraan yang seharusnya dijunjung tinggi di bulan penuh ampunan ini.
Baginya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari sikap egois dan tindakan yang merugikan sesama. Momentum ini harus dimaknai sebagai ruang memperbaiki hubungan vertikal kepada Tuhan sekaligus hubungan horizontal antarwarga.
Sementara itu, suasana di berbagai masjid dan surau di Sumbar mulai dipenuhi aktivitas ibadah. Lantunan ayat suci Al-Qur’an dan gema doa menjadi potret keseharian yang menenteramkan. Kepolisian memastikan seluruh rangkaian ibadah tersebut mendapatkan pengamanan yang optimal.
Komitmen menjaga keamanan juga mencakup antisipasi lonjakan mobilitas masyarakat menjelang Idulfitri. Rekayasa lalu lintas dan penguatan pos pengamanan menjadi bagian dari strategi agar arus mudik berjalan lancar dan minim risiko kecelakaan.
Gatot Tri Suryanta berharap Ramadan kali ini mampu memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Ia ingin masyarakat merasakan kehadiran aparat sebagai pelindung dan pengayom yang bekerja dengan hati, bukan sekadar menjalankan prosedur.
Solihin pun mengajak seluruh personel untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum introspeksi diri. Profesionalisme, integritas, dan pelayanan prima harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas spiritual masing-masing anggota.
Di penghujung pesannya, keduanya menyampaikan doa agar seluruh masyarakat diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa hingga meraih kemenangan di Hari Raya Idulfitri. Harapan besar disematkan agar Sumbar tetap damai, sejuk, dan menjadi contoh daerah yang mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman.
Seruan yang disampaikan bukan sekadar formalitas, melainkan penegasan komitmen bahwa Ramadan 1447 H harus menjadi bulan penuh keberkahan, kedamaian, dan persatuan bagi seluruh warga ranah Minang.(*)
